Kasus Santri Bunuh Ustazah: Santri adalah Murid yang Hendak mencari Ilmu Agama, Sementara Pesantren Bukan Tempat Titipan Anak-Anak Nakal yang Tidak Beriman

Artikel ini mengandung deskripsi grafis tentang kekerasan dan pembunuhan yang mungkin mengganggu bagi sebagian pembaca. Harap berhati-hati saat membaca.

Aksaratimes.com I 21 Mei 2024 Jakarta – Seorang santri berinisial FA (13) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, melakukan pembunuhan sadis terhadap ustazahnya, NJ (35), akibat sakit hati setelah dihukum menulis Al-Qur’an dan dijemur. FA membunuh NJ dengan menikamnya berulang kali menggunakan pisau dapur. Insiden tragis ini terjadi di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kilometer 6 Palangkaraya, pada Selasa (14/5) sekitar pukul 23.00 WIB. Kapolresta Palangkaraya, Kombes Budi Santosa, menyatakan bahwa pelaku menyimpan dendam terhadap korban karena dua kali mendapat hukuman.

“Motifnya karena dendam, sakit hati karena dihukum 2 kali dengan cara dijemur dan menulis Al-Qur’an sebanyak 2 juz, sehingga setiap melihat korban merasa benci,” ujar Kombes Budi Santosa pada Minggu (19/5/2024). Setelah penganiayaan, korban sempat dievakuasi ke Rumah Sakit Betang Pambelum oleh orang tua pelaku. Namun, korban dinyatakan meninggal dunia pada Rabu, 15 Mei sekitar pukul 00.05 WIB akibat luka yang parah.

Read More

“Dibawa pakai mobil orang tua pelaku ke Rumah Sakit Betang Pambelum sesampainya di sana dinyatakan meninggal dunia hari Rabu 15 Mei sekitar pukul 00.05 WIB,” jelas Budi. Korban ditemukan berlumuran darah oleh saksi di dalam rumahnya. Hasil pemeriksaan mengungkap bahwa korban menderita luka tikaman di kepala hingga dada.

“Pelaku menusuk bagian pipi sebelah kanan, dari mata menembus ke rahang, di bagian kepala dalam, pipi kiri, kening sampai pipi posisi menyerong, bagian bahu kanan, hingga bagian dada kanan hingga menyentuh paru-paru,” terang Budi. Pelaku telah ditahan di Polresta Palangkaraya untuk pemeriksaan lebih lanjut dan dijerat dengan Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Pelaku Dihukum karena Keluar Ponpes Tanpa Izin

Budi mengungkapkan bahwa korban dua kali menghukum pelaku karena ketahuan keluar dari lingkungan pesantren tanpa izin. Kejadian pertama terjadi pada Desember 2023, dan yang terakhir adalah sehari sebelum pembunuhan. “Itu sanksi pertama pada Desember 2023 dan jalani hukuman dijemur selama beberapa saat, lalu sanksi kedua karena keluar tanpa izin juga pelaku dihukum menulis Al-Qur’an sebanyak 2 juz sebelum terjadi penganiayaan,” jelas Budi.

FA, yang sakit hati, kemudian mendatangi rumah korban tak lama setelah menyelesaikan hukuman menulis Al-Qur’an. Pelaku masuk melalui jendela depan rumah korban, kemudian mengambil pisau di dapur dan masuk ke kamar untuk menikam korban. “Pelaku masuk melalui jendela depan rumah korban kemudian masuk ke dapur dan mengambil pisau dapur korban lalu masuk ke kamar dan menikam korban,” kata Budi.

“Saat lampu dinyalakan oleh saksi (salah satu ustaz) terlihat korban bersandar di pintu kamarnya dalam kondisi luka dan berlumuran darah, pelaku duduk di samping korban dengan tatapan kosong,”pungkasnya. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *