Aksaratimes.com I 5 Desember 2023 Jakarta – Dikutip dari Detikoto yang mengunjungi Bangkok, Thailand, pekan lalu, mereka menemukan pemandangan unik. Meskipun lalu lintasnya selalu ramai seperti di DKI Jakarta, kualitas udara di Bangkok tetap baik dan sehat untuk dihirup.

Di area-area sibuk seperti Siam, pusat perbelanjaan dan hiburan, kemacetan lalu lintas terjadi hampir setiap waktu. Bahkan, saat perjalanan dari Bangkok ke Chonburi dan Muang Thong Thani, kepadatan kendaraan terlihat di banyak titik.

Namun, yang menarik adalah bahwa meski macet, kualitas udara di Bangkok tetap menjadi salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Selama empat hari kunjungan, aplikasi AirVisual menunjukkan indikator warna hijau dengan keterangan ‘good’, menandakan tingkat polusi udara yang rendah.

Kebersihan udara di Bangkok tidak hanya dapat dilihat melalui alat pengukur, tetapi juga dengan mata telanjang. Bangunan-bangunan yang berjarak jauh dapat terlihat jelas tanpa terhalang oleh kabut polutan.

Pemandu wisata lokal, Anan, menjelaskan bahwa Bangkok pernah mengalami masalah serius dengan polusi udara beberapa tahun lalu. Namun, belakangan ini, udara di sana telah membaik berkat upaya keras pemerintah setempat.

Dulu (polusi) sangat parah, tapi sekarang sudah berkurang. Meskipun masih ada kemacetan, terutama di jam pulang kerja, ungkap Anan di Bangkok, Thailand.

Menurut informasi di laman C40, pemerintah Thailand telah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi polusi udara di kota-kota besar, terutama di Bangkok yang terjadi pada (22/01/2020).

Polusi udara di Bangkok, Thailand, mencapai tingkat terparah, Pralong Damrongthai dari Departemen Pengendalian Polusi menyatakan bahwa emisi kendaraan dan aktivitas lainnya menjadi penyebab utama polusi udara ini.

Pada Senin (20/01/2020), tingkat Kandungan Particulate Matter (PM) 2,5 di Bangkok mencapai 95 mikrogram per meter kubik, masuk kategori tidak sehat. Tingkat maksimal yang dianggap aman oleh pemerintah adalah 50 mikrogram/m3. PM 2,5 adalah partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang dapat membahayakan kesehatan manusia karena dapat masuk ke paru-paru dan jantung.

Selain emisi kendaraan, polusi udara ini juga diperparah oleh pembakaran lahan di beberapa provinsi, menyelimuti area di Thailand bagian utara dan tengah dengan kabut asap.

Dalam survei yang dilakukan oleh Institut Nasional untuk Administrasi Pembangunan, 81 persen dari 1.256 warga setempat menyatakan bahwa upaya pemerintah dalam menyelesaikan masalah polusi udara tidak efektif. Hanya 2,7 persen responden yang menganggap upaya pemerintah efektif saat itu.

Meskipun Departemen Pengendalian Polusi merilis rencana nasional pada Oktober lalu untuk mengatasi polusi udara, belum jelas seberapa banyak upaya yang telah diimplementasikan. Rencana ini sebagian besar membahas pedoman dan kemungkinan tindakan pencegahan serta cara mengukur polutan.

Menurut Greenpeace, kondisi polusi udara di Thailand menunjukkan kegagalan upaya pemerintah. Tara Buakamsri dari Greenpeace menyatakan bahwa tidak ada langkah konkret atau rencana jangka panjang pemerintah untuk mengatasi situasi ini.

Selain itu, ia menilai bahwa batas maksimal PM 2,5 yang ditetapkan pemerintah (50 mikrogram/m3 selama 24 jam) terlalu tinggi dan menyarankan penurunan menjadi 35 mikrogram/m3.

Situs Air Visual mencatat bahwa polusi udara telah membuat kualitas udara di Bangkok menjadi tidak sehat, terutama bagi anak-anak, orang tua, dan mereka yang memiliki masalah pernapasan. Polusi ini berasal dari berbagai sumber seperti emisi kendaraan, proyek konstruksi, pabrik, pembakaran limbah, dan kebakaran lahan.

Polusi udara di Bangkok cenderung memburuk selama musim hujan, seperti yang terjadi pada Januari 2018. Kualitas udara rata-rata mencapai 41,2 mikrogram/m3, melampaui lebih dari empat kali batas level maksimal yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Pada tahun lalu, polusi udara yang berlangsung selama berminggu-minggu bahkan memaksa pemerintah untuk menutup hampir 450 sekolah selama tiga hari.

Ketika dihadapkan pada polusi udara PM2.5, otoritas setempat langsung mengumumkan fenomena tersebut sebagai agenda nasional dan melibatkan semua pemangku kepentingan untuk turut serta dalam tindakan efektif memeranginya.

Bangkok membentuk Komite Pencegahan dan Solusi Polusi Udara yang dipimpin oleh Gubernur Bangkok. Komite ini menetapkan langkah-langkah jangka pendek dan jangka panjang untuk mengatasi masalah polusi saat itu.

Langkah-langkah jangka pendek antara lain:

  1. Peningkatan frekuensi pembersihan jalan dan penyiraman air untuk mengendalikan debu.
  2. Intensifikasi pos pemeriksaan dan larangan untuk kendaraan yang mengeluarkan asap hitam.
  3. Koordinasi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas dan mendukung transportasi umum.
  4. Pelarangan pembakaran sampah dan pembakaran terbuka.
  5. Pengendalian debu dari konstruksi Skytrain.
  6. Mengontrol dan menyelesaikan masalah debu dari konstruksi bangunan.
  7. Peningkatan area hijau.
  8. Pengendalian emisi polusi dari pabrik industri agar sesuai dengan standar.
  9. Pendistribusian masker bedah dan informasi tentang pencegahan PM2.5, terutama untuk anak-anak, pasien, dan orang tua.

Sementara itu, langkah-langkah jangka panjang melibatkan:

  1. Peningkatan standar emisi kendaraan dan kualitas bahan bakar.
  2. Pengembangan jaringan transportasi umum multi-moda.
  3. Promosi penggunaan transportasi umum.
  4. Penyediaan bangunan “Park&Ride” untuk mendukung transportasi umum.
  5. Peningkatan area hijau.

Dengan peningkatan kualitas udara yang signifikan, Jakarta dapat mengambil inspirasi dari langkah-langkah yang diimplementasikan oleh Bangkok dalam mengatasi masalah polusi udara yang semakin meresahkan banyak orang. (red)