Kediri (aksaratimes.com), Kamis 28/01/2021
Banyaknya truk muatan pasir yang melintasi pemukiman warga 5 (lima) Dusun di Ds. Manggis meliputi Dusun Manggis, Ngunut, Margorejo, Sumberurip dan Sumberejo, membuat warga sangat terganggu akibat aktivitas yang dilakukan para penambang pasir yang diduga tidak mengantongi legalitas ijin penambangan yang jelas oleh pemilik tambang bernama Ngaini atau yang sering dipanggil Bedun warga Blitar. Rabu 27/01/2021 malam pukul 21.00WIB warga sempat demo dan menghadang truk pasir yang akan melintas ke Ds. Manggis.

Sempat dibentangkan Banner bertuliskan “Truk Pasir Dilarang Lewat Ds. Manggis Ngancar Kediri”, ada beberapa truk terpaksa berhenti dan mematikan mesinnya. Warga meminta pihak pemilik tambang pasir mau menemui untuk memberikan kejelasan terkait ijin penambangan pasir dan kopensasi yang mana desa mereka menjadi akses jalan truk pasir penambangan milik Bedun.

Korlap aksi Suyatno warga Ds. Manggis saat di wawancara awak media mengatakan “aksi damai ini warga ingin bertatap muka dan meminta kejelasan terkait ijin resmi penambangan dokumen UKL/UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup) pihak penambang pasir, warga yang terdampak dari kendaran/truk pasir yang melewati dusun mereka selama ini hanya memberikan kompensasi yang tidak sesuai dengan apa yang diterima dari pihak penambang pasir” Katanya kepada awak media.

Ditambahkan Slamet, warga setempat, bahwa selama ini mereka tidak tahu siapa pemilik usaha galian ini, hanya membaca dipapan, bertuliskan pemberitahuan ijin lokasi usaha atas nama Ngaini. “Kami tidak tahu siapa pemilik tambang tersebut, kabarnya dari Blitar. Hanya melihat papan atas nama Ngaini. Kemarin awal ada bantuan sembako, namun tiga bulan ini sudah tidak ada,” jelasnya.

Diimbuhkan Edi, salah satu warga, bahwa sebelumnya terkait usaha galian ini berjalan lancar dan warga merasakan kompensasinya. Namun setelah macetnya bantuan serta jalan yang makin rusak, maka warga memberanikan diri menggelar aksi. “Bila pengusaha sebelumnya enak, masyarakat selalu diberi kompensasi setiap bulan. Namun dengan munculnya perusahaan baru ini atas nama Ngaini, kami tidak mendapatkan apapun,” terangnya.

Selang beberapa saat Ngaini alias Bedun datang dengan berteriak-teriak membubarkan kerumunan aksi dan menyuruh menyopot banner yang menghadang jalan truk pasir. Sempat juga mengajak warga berkelahi.

“Ayo kalo berani satu-satu pencak dengan saya, jangan jadi pengecut, siapa yang menyuruh kalian, kalian pasti dibayar, siapa provokatornya, saya tahu orangnya yang membayar kalian, suruh keluar kalau berani temui saya” Teriak Bedun ditengah kerumunan aksi warga.

Lanjutnya Bedun juga bertanya dimana Kades Manggis, ayo datang dan mari kita koordinasi. “Saya sudah bantu bangun masjid, buat jalan, menyumbang 15jt buat wayang, dan ada 6 orang penambang yang membayar ke tim panitia Desa Manggis bentuk kopensasi atau kas desa masing-masing sebesar Rp16.700.000,- setiap bulannya akan tetapi tidak sampai ke masyarakat. Saya dulu juga beri atensi atau dana membantu Operasional Polisi ke Polda Polres, ijin saya juga resmi kenapa dilarang menambang,” demikian teriakan yang diucapkan Bedun sapaan akrab Ngaini, warga Desa Dawung Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar.

Atas kejadian aksi ini, Kapolres Kediri AKBP Lukman Cahyono langsung memerintahkan anggotanya mendatangi lokasi kejadian. Kapolsek Ngancar Iptu Priyo Eko tiba di lokasi bersama sejumlah anggotanya. Dua spanduk tersebut akhirnya bisa dilepas dan kendaraan truk akhirnya bisa kembali melintas, dan aksi berakhir sekitar pukul 23.30WIB. (ND)